teks

"Selamat Datang Para Pecinta Ilmu Pengetahuan"

Rabu, 15 Desember 2010

Pemikiran Tasawuf Al-Hallaj, Abu Yazid Al Bustami dan Ibn Al ‘Arabi

BAB I
PENDAHULUAN


Perkembangan zaman makin maju, baik dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejalan dengan itu tidak kalah pentingnya perkembangan ilmu tasawuf pun kian berkembang, tasawuf dipandang penting oleh sebagian umat islam karena ilmu tasawuf dapat dijadikan solusi untuk pemecahan masalah yang dihadapi umat,masalah disini adalah masalah kedekatan seseorang dengan tuhannya.
Dalam hal ini kami akan membahas pembahasan tentang biorafi pemikiran-pemikiran tasawuf dari tokoh-tokoh sufi yang terkemuka,diantaranya adalah al-hallaj, abu yazid al-bustami, dan ibn arabi.


BAB II
PEMBAHASAN



1.   Al-Hallaj
A.  Nama dan riwayat hidup al-Hallaj
Nama lengkapnya adalah Abu al-Mughist al-Hasan bin Mansur bin Muhammad al-Baidhawi, dan dikenal dengan nama al-Hallaj,dia dilahirkan pada tahun 244 H/855 M,di desa Thur dekat desa bida di Persia.[1]
Sejak kecil dia sudah banyak bergaul dengan sufi tewrkenal. Pada waktu berumur 16 tahun, dia pernah berguru kepada sahil bin Abdullah al-Tusturi, salah seorang tokoh terkenal pada abad ke tiga Hijriyah dan seterusnya dia meneruskan pelajrannya kepada Amr Al-Makky dan Junaid Al- Bagdadi, serta aktif mengiuti gurunya dalam setiap pertapaan.[2]
Dalam peerjalanannya dan pertemuannya denga ahli-ahli sufi, timbulah pribadi dan pandangan hidupnya sendiri sehingga dalam usia 53 tahun ia telah menjadi perbincangan para ulama waktu itu karena paham tasawufnya yang berbeda dengan yang lain. Karna   pahamnya itu, seorang ulama fiqh terkemka Ibn al- Isfalani mengeluarkan  fatwa yang mengatakan bahwa ajaran yang dibawa oleh al-Hallaj sesat. Sehingga   al-Hallaj dipenjaraka dan setelah satu tahun dipenjarakan dia dapat melarikan diri dengan pertolongan seorang penjaga penjara yang menaruh simpati kepadanya.
Dari Bagdad dia melarikan diri ke Sus dalam wilayah Ahwas. Disinilah dia bersembunyi 4 tahun lamanya. Namun, pada tahun 301 H/901 M dia dipenjarakan kembali selama 8 tahun. Akhirnya pada tahun 309 H/921 M diadakanlah persidangan para ulama dibawah kekuasaan bani Abbas di masa al-Mukhtadirbillah. Pada tanggal 18 zilkaedah 309 H, jatuhlah hukuman kepada al-Hallaj yaitu hukuman mati. Diriwayatkan sebelum sampai kepuncak penyiksaan seluruh tubuhnya dicabik-cabik dengan cemati, riwayat hidupnya berakhir dengan peristiwa yang tragis.
Intisari ajaran al-Hallaj yang kadang-kadang dinyatakan dalam bentuk sya’ir dan berupa nash dalam kata-kata yang dalam.

B.     Inti  dari ajaran al- Hallaj
a. Hulul
Para ulama maupun para sarjana berbeda pendapat tentang hakikat hulul al-Hallaj ini. Al-Taftazani telah berusaha manampilkan beberapa pendapat tentang hal tersebut. Didalam kesimpulannya dia mengatakan bahwa hululnya al-Hallaj ini bersifat majazi tidak dalam pengertian yang sesungguhnya, sebagaimana telah disebutkan diatas, Irfan abd al-Hamid Fattah berpandapat bahwa paham “kesatuan wujud” telah mulai tampak sejak lahir Abu Yazid al- Bustami dengan paham Ittihadnya. Dan paham hulul al-Halaj ini menurut al-Taftazani merupakan perkembangan dan bentuk lain dari paham ittihad yang diajarkan oleh Abu Yazid al- Bustami. Jika dilihat lebih jauh antara ittihad dan hulul terdapat perbedaan. Dalam ittihad diri Abu Yazid al-Bustami hancur dan yang ada hanya diri Allah, sedangkan dalam hulul, diri al- Hallaj tidak hancur. juga dalam paham ittihad, yang dilihat hanya satu wujud, sedangkan dalam paham hulul ada dua wujud tetapi bersatu dalam satu tubuh.
Menurut al-Hallaj Allah memiliki dua sifat dasar, yaitu sifat ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusiasan (nasut). Demikkian pula manusia disamping memiliki sifat kemanusiaan juga memiliki sifat ketuhanan dalam dirinya. Paham al-Hallaj ini juga dapat dilihat dari penafsirannya mengenai penciptaan nabi Adam (al-Quran surat al-baqaarah ayat 34).dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kamu kepada Adam maka sujudlah mereka kecuali iblis, ai enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Menurut al- Hallaj  Allah memberikan perintah kepada malaikat untuk sujud kepada Adam karena pada diri Adam, Allah menjelma sebagai mana Dia menjelma (hulul) dalam Isa a.s. paham bahwa Allah menjelma dalam diri Adam berarti pula bahwa Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuknya.
Paham al-Hallaj ini sudah jelas terlihat dalam gubahan sya’irnya:
Mahasuci zat yang menyatakan nasutnya
Dengan lahut-Nya, yang cerlang seiring bersama
Lalu dalam makhluk-Nya pun tampak nyata
Bagai sipeminum serta sipemakan tampak sosok-Nya
Hingga semua makhluk-Nya melihat-Nya
Bagai bertemunya dua kelopak mata
Dengan demikian menurut paham tasawuf al- Hallaj, dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan dan dalam diri tuhan terdapat sifat kemanusiaan. Karena itu persatuan antara Tuhan dengan manusia bias terjadi dan persatuan itu mangambil bentuk hulul.
Agar manusia dapat bersatu itu, ia harus terlebih dahulu menghilangkan sifat “kemanusiaan melaluin Fana’”.kalau sifat-sifat kemanusiaan itu telah hilang dan yang tinggal hanya sifat ketuhanan dalam dirinya, disitulah baru tuhan dapat mengambil tempat (hulul) dalam dirinya dan ketika itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh manusia.
Dengan cara inilah menurut al-Hallaj, seorang sufi bisa bersatu dengan Tuhan. Jadi ketika al-Hallaj berkata: Ana al-Haqq (Aku adalah Tuahan) bukanlah roh al-Hallaj mengucapkan itu, tetapi roh Tuhan mengambil tempat dalam dirinya. Dengan kata lain bahwa al- Hallaj sebenarnya tidak mengaku dirinya Tuhan. Hal ini pernah pula ia tegaskan, Aku adalah rahasia yang maha benar, dan bukanlah yang maha benar itu aku, Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami.[3]  

b. Haqiqih Muhammadiyah
Hakikah Muhammadiyah atau Nur Muhammad, menurut al-Hallaj merupakan asal atau sumber dari segala sesuatu, segala kejadian,  amal perbuatan dan ilmu pengetahuan. Dan dengan perantaranyalah alam ini dijadikan. Al-hallajlah yang mula-mula sekali menyatakan bahwa kejadian alam ini pada mulanya adalah dari haqiqah Muhammad. Didalam kitabnya at-Tawasin, al-Hallaj menilis:
Ta sin. Sinar cahaya gaib pun nampak dan kembali, sinar itupun melintas dan mendominasi segala sesuatu. Sebuah bulan bersinar cemerlang bersinar diantara berbagai bulan,zadiak nya ada didalam bintang rahasia.yang maha benar memberinya nama “ummu” untuk menghimpun cintanya, “murni” karena nikmatnya kepadanya dan “makki” karena ketetapannya pada ketetapannya.
Kemudian katanya Lagi:
Cahaya-cahaya kenabian memancar dari cahayanya. Cahaya-cahayanya punterbit dari cahayanya. Dalam cahaya-cahaya itu tidak satupun cahaya yang lebih cemerlang, gemerlap danterdahulu dari cahaya pemegang kemuliaan (Muhammad saw).
Menurut al-Hallaj kejadian Nabi Muhammad terbentuk dari dua rupa yaitu:
·    Rupanya yang Qadim dan Azal. yang terjadi sebelum terjadinya   sealayang ada dibumi dan dilangit ini.
·    Rupanya sebagai manusia, sebvagai seoarang rasul dan nabi yang diutus tuhan, rupanya sebagai manusia akan mengalami maut, tapi rupanya yang Qadim akan tetap ada.
Paham ini berawal dari hadits yang sangat popular dikalangan ahli sufi yaitu: “Aku berasal dari cahaya Tuhan dan seluruh dunia berasal dari cahayaku”.dan paham ini dikembangkan oleh mahyiddin ibn ‘Arabi dan Abd al- Alkarim Bin Ibrahimal- jili, dalam kkerangka ide insan kamil dan teori kejadian alam ini juga pengaruh ajaran filsafat.[4]

c. Wahbah al-Adyan (kesatuan semua agama)
Paham ini muncul sebagai konsekuensi logis dari pahamnya tentang Nur Muhammad, yakni pendapat al-Hallaj tentang Nur Muhammad telah mendorongnya berkesimpulan tentang kesatuan semua agam, karna dalam kasus tersebut sumber semua agama adalah satu, menurutnya, agama-agama itu diberikan kepada manusia bukan atas pilihannya sendiri, tetapi dipilihkan untuknya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Nur Muhammad adalah asal dari segala sesuatu, termasuk adanya hidayah dan agama, juga semua para nabi, mulai dari nabi Adam as. sampai nabi Isa as. Maka agama-agama yang ada kembali kepada pokok atau sumber yang sama yakni pancaran dari satu cahaya. Perbedaan yang ada dalam agama itu hanya sekedar bentuk dan sifatnya, sedang hakikat dari tujuannya sama, karena semuanya bertujuan menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
Banya diantara ulama yang tidak menerima ajaran tasawuf al-Hallaj, tetapi tidak pula sedikit ulama yang membelanya. Pembela-pembelanya berisaha menjernihkan dari apa yang pernah dituduhkan kepada al-Hallaj.

2.   Abu Yazid Al-Bustami
A.    Nama dan riwayat hidup Abu Yazid al- Bustami
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al- Bustami. Dia lahir di Bustham bagian timur laut Persia dan ia meninggal di bustham pada tahun 261 H/875 M.[5]
Ayahnya bernama Isa Bin Surusyan yang berasal dari desa Bustham. Ketika Abu Yazid masih kecil, ia bernama Taifur dan ketika itu pula kegemarannya sudah mulai tampak untuk selalu mau belajar berbagai macai ilmu pengetahuan.[6]
Pengalaman sufi diperoleh Abu Yazid sejak  usia dini, ayahnya Isa bin Surusyam adalah orang yang kaya di Bustam, tetapi ibunya hidup sebagai seorang zahidah, sedangkan saudara Adam ( kakaknya) dan Ali ( adiknya) menjadi zuhad dan ‘ubad kemudia Abu Yazid lebih menonjol dari dia saudaranya ini ia tidak mencukupkan diri pada zuhud saja, tetapi ia lebih tinggi, yaitu tenggelam dan bersatu ( ittihad) dengan Tuhan. Kalau kedua saudaranya baru measuki jalan tyasawuf, maka Abu Yazid telah menjadi sufi dan memperoleh pengalaman –pengalaman tasawufnya. Waktunya digunakan untuk selalau bisa beribadah kepada Allah SWT.
Abu Yazid meninggal dunia tanpa meninggalkan karya tetulis riwayat hidup dan pemikirannya hanya diketahui Isa b. Adam Musa B. Isa dan Thaifur B. Isa  dan tokoh-tokoh lain yang pernah berjumpa dan mencatat ucapan-ucapan Abu Yazid seperti Abu Musa Al Dabili, Abu Ishak Al-Harawi dan lain-lain. Pengikutnya tergabung dalam tarekat Thaifuriyyah yang merupakan pelanjut dari ajaran. Ia meninggla dunia tahun 261/ 874 di Bustan.

B.     Inti ajaran tasawuf Abu Yazid al Bustami
Abu Yazid adalah seorang zahid yang terkenal. Hal ini berjalan melalui tiga fase, yaitu zuhud terhadap dunia, zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah.dalam fase terakhir ini dia berada dalam kondisi mental yang menjadikan dirinya tidak mengingat apa-apa selain Allah. Memang dalam sejarah perkembangan tasawuf, Abu Yazid dipandang sebagai pembawa paham al- fana’ dan al- baqa’ serta pencetus paham ittihad.[7]
Dalam ajaran tasawufnya terkadang falsafah hulul dan ittihad yang kadang-kadang diungkapkannya dengan cerita-certa yang mengandung ibarat, misalnya ia mengatakan: ular tak dapat dilihat zatnya, karena dia terbungkus dengan sifatnya (kulutnya) apabila ular itu terpisah dari kulitnya barulah terlihat ular yang sebenarnya. Maka ular itu dapat mengatakan aku lah ular.[8]
Ajaran al-fana’, al-baqa’ dan ittihad Abu yazid adalah kesatauan yang tak dapat dipisahkan. Pemikiran abu yazid dengan fana’ meninggalkan dirinya dan pergi kehadirat Tuhan bahwa dia berada dekat pada Tuhan, juga ketika Abu Yazid fana’ dan mencapai baqa’ maka dari mulutnya keluarlah kata–kata yang ganjil sehingga menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengaku dirinya sebagai Tuhan, padahal sesungguhnya dia tetap manusia, yaitu manusia yang mengalami pengalaman batin bersatu dengan Tuhan. Diantara kata-kata yang keluar dari Abu Yazid adalah

Artinya: tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.

Artinya: maha suci Aku, maha suci Aku, maha besar Aku.
   Ucapan yang keluar dari mulut Abu Yazid itu, bukanlah kata-katanya sendiri, tetapi kata–kata itu diucapkannya melalui diri Tuhan dalam Ittihad yang dicapainya dengan tuhan. Dengan demikian Abu Yazid tidak mengku dirinya sebagai tuhan[9]. Abu Yazid dalam ittihad berbicara dengan nama tuhan,atau lebih tepatnya Tuhan berbicara melalui lidah Abu Yazid. “Sesungguhnya dialah yang berbicara melalui lidahku, sedang aku dalam keadaan itu sedang fana’. Jadi abu yazid dalam dirinya tidak mengaku dirinya sebagai tuhan, kata-kata itu buka diucapkan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sendiri, tetapi kata-kata tuhan yang diucapkannya dalam keadaan fana’.
Masalah ucapan-ucapan aneh ini telah di kaji oleh Lovis Massignon, menurutnya ucapan itu muncul pada seorang sufi dalam bentuk pertama diluar sadarnya[10]. Abu Yazid juga pertnah membicarakan tentang sunnat dan fardhu,menurutnya sunnat adalah meninggalkan dunia dengan segala isinya dan fardhu adalah bersahabat dengan Allah SWT. Abu Yazi juga pernah mengucapkan azan lalu pingsan, ketika sadar kembali dia berkata “ menakjubkan bahwa orang tidak mati ketika mengumandangkan azan”. Diantara ucapan-ucapan AbuYazid:
Pada sutu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan
Dan ia berkata; Abu Yazid makhluk-Ku ingin melihat engkau1
Aku menjawab: ‘ kekasihku, aku
Tak ingin melihat mereka. Tetapi jika itulah
Kehendakmu. Maka kau tak berdaya untuk
Menentang kehendak-Mu hiasilah aku dengan ke Esaanmu,
Sehinnga jika makhluk-Mu melihat daku,
Mereka akan berkata: “telah kami melihat engkau”
Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah engkau
Karena diketika itu aku tak ada disana[11]
Pernyataan diatas menggambarakan bahwa Abu Yazid telah dekat dengan Tuhan, tetapi ittihad belum ia capai.
Masih banyak ucapan-ucapannya yang bertendensi kearah timbulnya paham ittihad, seperti: Aku tidak heran terhadap cintaku padaMu, karenaku hanyalan hamba yang hina. Tapi Aku heran terhadap cintaMu padaku, karena engkau adalah raja yang maha kuasa.
Tampaknya bagai manapun ajaran yang dikatakan oleh abu Yazid, semunya mengacu pada tema pahamnya., yaitu ittihad yang berawal akibat dari paham fana’. Ciri yang mendominasi paham fana’ abu yazid adalah sirnanya segala sesuatu selain Allah dari pandangannya, dimana seorang sufi tidak lagi menyaksikan kecuali hakikat yang satu yaitu Allah dan dalam faham fana’ ini terkandunga pula sirnaya Tuhan.
Akhirnya dikemukakan bahawa al- sulami dalam karyanya Tabaqah al-Sufiyah, al- Yusi dalam karyanya al- luma’ dan al- Qusyairi dalam karyanya al-Kusyairiyah mengatakan bahwa tasawuf yang dikemukakannya seiring dengan kedua sumber ajaran islam yaitu al- Quran dan Hadits.

3.      Ibn Al- ‘Arabi
A.    Nama dan riwayat hidup ibn al- ‘Arabi
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Mahyuddin al- Hatimi al- ta’i al- Andalusi. Di Andalusia barat dia dikenal dengan nama ibn A’rabi. Disamping itu dia juga bias disebut dengan al-Qutb, al-Gaus, al- syaikh, al- Akbar, atau al- kibrit al- Aliman. Dia dilahirkan pada tanggal 17 Ramadhan 560 H/ 28 juli 1163 M. di nerci dan meninggal pada tanggal 28 rabi’ul akhir 638 H/ 16 November 1240 M.
 Ibn Arabi berasal dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuwan di Mercia, Andalusia tenggara. Ketika berumur 8 tahun, keluarganya pindah ke Senvilla, tempat dimana dia mulai menuntut dan belajar ilmu al-quran, Hadist dan fiqh bersama sejumlah murid pada salah seorang ahli fiqh terkenal di Andalusia yaitu ibn hazm al- zahiri.
Setelah berumur 30 tahun barilah ia mulai berkelana di berbagai kawasan Andalusia dan kawasai islam bagian barat. Didaerah ini dia belajar dengan bebedrapa orang sufi, diantaranya Abu Madyan al- Gaus al- tahimsari. Kemudian beberapa waktu dia pergi  bolak balik antara Hijaz, Yaman, Sriya, irak dan Mesir. Akhirnya pada tahun 620 hijriyah dia menetap di hijaz hingga akhir hayatnya.
Ibn Arabi telah sampai pucak ajaranya yaitu “ kesatua wujud” yang tumbuh dikalangan ahli-ahli sufi dalam islam. Pikirannya juga berpengaruh pada sufi sesudahnya, baik di Timur maupun di Barat. Didalam Conlise Encyclopedia of Arabic civilization disebutkan jumlah karya ibn Arabi mencapai 300 buah, dean hanya 150 buah yang dapat di jumpai, dari buku-bukunya yang  sempat ditanyakan hanya 2 buah buku yangterkenal yaitu al-Futurat al-Makkiyah dan fusus al-Hikam.[12]

B.     Inti ajaran tasawuf ibn Arabi
a. Wahdah al-Wujud
Ibn Arabi tidak pernah menggunakan istilah wahdat al-wujud, dia dianggap sebagai pendiri dokrin wahdat al- wujud karna ajaran-ajarannya mengandung ide wahdat al- wujud,seperti dalam pernyataanya, semua wujud adalah satu dalam realisat, tiada satupunbersama dengannya. Wujud hukum lain dari al-Haqq karna tidak ada sesuatupun dalamwujud selain Dia.[13]
            Menurut hamka ibn ‘Arabi dapat di sebut sebagai orang yang telah sampai pada puncak wahdatul wujud. Dia telah menegakkan pahamnya berdasarkan renungan piker dan filsafat dan zauq tasawuf. Ia menyajikan ajaran tasawufnya dengan bahasa yang agak berbelit-belit dengan tujuan agar untuk menghindari tuduha, fitnah dan ancaman kaum awam sebagai mana dialami al- Hallaj. Baginya wujud (yang ada) itu hanya satu wujudnya makhluk adalah ‘ain wujud khaliq pada hakikatnyatidak lah ada pemisahan antara manusia dengan tuhan. Kalau dikatakan berlainan antara khaliq dengan makhluk itu hanya lah lantaran perndeknya paham dan akal dalam mencapi hakikat. Dalm futuhat al- Makkah, sebagai kitab yang dikarangnya, Ibn ‘Arabi berkata:


Artinya: wahai yang menjadikan segala sesuatu pada dirinya Engkau bagi apa yang Engkau jadikan, mengumpulkan apa yang engkau jadikan, dan yang takberhenti adanya pada Engkau maka engkaulah yang sempit dan lapang.
            Pada bagian lain dari kitabnya itu, Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa wujud alam ini adalah “ain wujud Allah. Allah itu adalah hakikat alam.dalam teori ibn ‘Arabi, terjadinya alam ini tidak bias dipisahkan dengan ajarannya tentang haqiqh Muhammadiyah, atau nur Muhammad. Ibn ‘arabi mengatakan bahwa nur Muhammad adalah suatu yang pertama sekaliwujud (menitis) dari nur ilahi.
            Tahapan-tahapan proses penciptaan alam menurut ajaran tasawuf ibn ‘Arabi:
a.       wujud tuhan sebagai wujud mutlak
b.      wujud al-haqiqah Muhammadiyahemansi pertama dari wujud Tuhan dan daripadanya melimpah wujud-wujud yang lain.
c.       Bentuk-bentuk al- ayan al- sabitah (wujud-wujud yang ada pada ilmu tuhan) disebul alam al- ma’am.
d.      Realitas-realitas rohaniah (wujud-wujud rohani) disebut alam arwah.
e.       Realitas-realitas al- nafsiyah (wujud-wujud jiwa) disebut ‘Alam al-Nufus al- Natuqah.
f.       Wujud-wujud jasad tampa materi yang disebut dengan alam al-Misal.
g.      Wujud-wujud jasad bermateri disebut dengan ‘Alam al-Ajsam al- Madiyah.
Dengandemikian dapat dipahami ibn Arabi menolak ajaran yang mengatakan bahwa ala mini berasal dari tiada kepada ada, menurutnya asal alam ini adalah emanasi Tuhan yang terus menerus. Dengan demikian hanya ada satu wujud dalam kemestaan ini, yaitu wujud Tuhan.sedangkan rupa-rupa wujud yang bermacam-macam tidaklah manjadikan pluralitas wujud yang sebenarnya. 

b. Al- Insan Al- Kamil
Al- Insan al- kamil adalh nama yang dipergunakan oleh kaum sufi untuk menakan seorang muslim yang telah sampai ketingkat tinggi, yaitu menurut sebagian sufi tingkat seseorang yangtelah sampai pada fgan’ fillah,memang terdapat perbedaan pendapat dikalangan para sufi dalam menentukan siapa yang bisa dikatakan al- insan kamil.
            Menurut ajaran tersebut, manusia sebenarnya adalah gambaran wujud Tuhan dan sebagi penjelma sempurna pada daya ciptaannya, ini adalah menurut ibn ‘Arabi mengenai ajarannya tentang al-insan al- kamil. Adanya manusia adalah untuk menunjukkan akan kesaempurnaan Tuhan dalam alam semesta dan untuk mencerminkan akd kebesaran-Nya.
            Sekarang yang dimaksud al-insan al-kamil menurut ibn ‘arabi seperti yang disebutkan dalam kitab fusus, adalah:

‘Ain Al-Haqq, artinya manusia adalah perwujudan dalam bentuk-Nya sendiri dengan segala keesaan-Nya. Berbeda dengan segala sesuatu yang lain, meskipun al- Haqq( tuhan) ‘ain segala sesuatu, tetapi segala sesuatu itu bukan ‘ain(zat)-Nya karna dia hanya perwujudan sebagai asmanya, bukan tuhan bertajalli sesuatu itu dalam bentuk zat-zat-Nya. Dan apabila engkau berkata insan(manusia), maka maksudnya ialah al- iansan al-kamil dalm memanusiakannya yaitu tuhan ber tajalli dalam bentuk zat-Nya sendiri disebut ‘ain.

Masalah al-insan al-kamil, dalam pandangan ibn ‘arabi tidak bias di lepaskan kaitannya dengan paham adanya nur Muhammad. Dikatakan bahwa nabi Muhammad SAW. Adalah al-insan al- kamil.menurutnya untuk mencapai al-insan al-kamil orang harus melalui jalan sebagai berikut:a. fana’ yaitu sirna didalam wujud tuhan sehingga seorang sufi menjadi satu dengan-Nya.b. baqa’ yaitu kelanjutan wujud bersama tuhan sehingga dalam pandangnnya wujud tuhanlah pada kesegalaan ini.
            Semua ini menurutnya adalah merupakan upaya pencapaian ketingkat al-insan al-kamil dan ia hanya akan didapat melalui pengembangan daya intuisi atau zauq sufi.[14]

Daftar Pustaka:
Drs. Abuddin Nata M.A. Akhlak Yasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada),
Drs. Duski Samad, M.A. Studi Tasawuf Sejarah, Tokoh dan Pemikirannya.
Dr. Asmaran A.S. . A, pengantar studi tasawuf ( Jakarta: PT.Rasa Grafindfo persada, 2002) cet.ke-2
Drs. H.A Mustafa, Akhlak tasawuf ( Bandung: Pustaka Setia, 1997), cet. Ke-V, hal.224
M.B. Tamam, kisah-kisah teladan para sufi, (Semarang : Amelia. 2008),cet. 1.
autsar Alzhari Nuer,ibn al-A’rabi wahdatal wujud dalam perdebatan (Jakarta:paramadina. 1905) cet-1


[1]  Dr. Asmaran A.S. . A, pengantar studi tasawuf ( Jakarta: PT.Rasa Grafindfo persada, 2002) cet.ke-2 hal.311
[2]  Drs. H.A Mustafa, Akhlak tasawuf ( Bandung: Pustaka Setia, 1997), cet. Ke-V, hal.224
[3] Dr. Asmaran AS. M.A. Pengantar Studi Tasawuf (Jakarta: PT.Rasa Grafindo persada, 2002 ), cet.ke-2 hal.
[4] Asmara As, op. Cit.hal.321
[5] M.B. Tamam, kisah-kisah teladan para sufi, (Semarang : Amelia. 2008),cet. 1. hal.46
[6] H.A. Mustafa, op.cit, hal.222
[7] Asmaran As.op.cit, hal.296
[8] Ibid.223
[9] Drs. Abuddin Nata M.A. Akhlak Yasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), hal. 237
[10] Drs. Duski Samad, M.A. Studi Tasawuf Sejarah, Tokoh dan Pemikirannya. Hal. 183
[11]  Duski Samad, op-cit, h. 182
[12] Asmaran AS. Op-cit. hal. 348
[13] Dr. Kautsar Alzhari Nuer,ibn al-A’rabi wahdatal wujud dalam perdebatan (Jakarta:paramadina. 1905) cet-1, hal.35
[14] Asmaran As.op-cit,hal.355-356

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar